Prologue
“ ... senjata ini bernama MG
15 , sebuah pistol mesin yang dibuat oleh Jerman . Ukurannya
7,92 mm. Secara spesifik , Pistol ini
didesign sebagai pistol pertahanan
dengan manipulasi tangan dalam pertempuran udara sejak awal 1930-an ... “
Seorang calon prajurit prancis
yang memperkenalkan dirinya sebagai John Cappeirene mengangguk , mendengarkan
tiap kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut cerewetku dengan seksama . Entah
mengapa , aku merasakan tekad yang membara di dirinya . Dia adalah aset negara
yang wajib dikembangkan .
Aku terus melanjutkan penjelasan
pada tiap senjata yang terpapang di Galeri sebelah rumahku . Sejak aku berhenti
menjadi seorang penulis puisi dan penerjemah pada masa Perang Dunia Ke-2 , aku ikut
turut membantu tetanggaku yang memiliki Galeri berpampangkan senjata dan alat
tempur di masa itu . Secara pribadi , aku menyukai hal yang berbau historis dan
kuno sejak masih muda . Jadi , walaupun aku sudah tidak lebih dari pak tua
berumur 89 tahun , aku tidak ingin
ketinggalan zaman oleh generasi muda . Aku terus memperbarui otak yang mulai
menua ini dengan hal-hal baru dan segala hal yang menarik perhatianku .
Terkadang , aku ingin keluar dari
rutinitas ini , terus dikelilingi oleh benda-benda yang membangkitkan hal yang
tidak mengenakkan . Namun apa daya , sebagai salah seorang saksi hidup perang
yang masih tersisa , aku harus terus bercerita layaknya kakek kepada cucunya
kepada pengunjung .
Tanganku menujuk ke arah lukisan
seorang tokoh yang tergantung di sebelah mesin yang diciptakan oleh Arthur
Scherbius di akhir Perang Dunia pertama . John pun mengikuti arah jari
telunjukku ,
“ Vinzenz Kaiser , oberstarmbonnführer , atau
letnan kolonel di wolfen selama
Perang Dunia ke-2 . Dia orang yang sangat terkenal . Dia
menerima berbagai penghargaan . Salah satunya adalah ‘The Knight’s Cross of The
Iron Cross ‘ . Penghargaan itu diberikan sebagai lambang dari keberanian
dalam perang yang besar atau keberhasilan dalam kepemimpinan oleh Nazi , Jerman
, selama Perang itu ... “
Aku terus mengoceh tentang tokoh
perang , senjata , dan hal lainnya . Selama apa yang kuceritakan adalah yang
diinginkan oleh John untuk dipelajari , Aku tidak lagi merasa lelah .
Sepanjang hayatku , Aku tidak
memiliki status sosial yang tetap . Mungkin Anda sekalian bertanya-tanya , apa
pekerjaanku dan latar belakangku . Maka akan Saya jawab .
Nama Saya
Andrewwit Sonnatés , keturunan Jerman-Prancis . Aku lahir di villages reculés ,
L’Illusion di tepi
Prancis dan dibesarkan di Munich , Jerman . Setelah aku berumur 32 tahun , aku
meneruskan risetku di Universitas Oxford ,
Inggris dan mengajar disana pula sampai Perang Dunia bergejolak
.
Aku
dilahirkan sebagai putra ‘haram ‘ . Ibuku adalah putri kedua Mantan Perdana
Menteri Prancis yang cukup termasyur . Ayahku sendiri adalah bangsawan Italia
yang merantau ke Jerman . Menurut Ayahku , keduanya bertemu dibawah jembatan
ketika Ibu hampir saja dibunuh oleh suruhan musuh politik ayahnya . Sejak
pertemuan itu , keduanya dilanda jatuh cinta . Keadaan memaksa keduanya untuk
bersatu , terutama sejak Ibuku hampir terbunuh lagi . Ayahku melarikan Ibu ke
desa terpencil dimana aku dilahirkan , yang bernama Villages L’illusion , berarti
desa ilusi .
Keluarga
pihak Ayah tidak menerima hal itu . Ibuku sudah dikeluarkan dalam daftar nama
keluarga Ayahnya . Itu berarti Ibu sudah tidak lebih dari rakyat biasa . Saat
Ibu mengandung , beliau terus didesak oleh Nenek dari Ayah , mengakibatkan aku
dilahirkan tanpa Ibu . Stres membuat Ibu tak sanggup dan meninggal dalam proses
melahirkan .
Ayahku
berduka dalam 5 tahun . Tentunya , pihak keluarga Ayah terus mendesak Ayah
untuk menikahi pilihan yang dipilihkan oleh mereka . Dan akhirnya , dengan
ancaman dan Aku sebagai objeknya , Ayah mengalah dan menikahi keluarga
bangsawan Polandia , menghasilkan adik laki-laki bernama Austin Sonnatés .
Aku
menyayangi adikku . Dan Austin juga menyukaiku . Kami seperti saudara se-Ibu
se-Ayah . Walaupun kami dilahirkan dengan Ibu yang berbeda . Ikatan batin kami
sangat kuat . Terkadang , tidak diperlukan lagi kata-kata untuk menyampaikan
sesuatu . Hanya dengan tatapan , kami sudah memahami kebutuhan masing-masing .
Ibu tiriku
juga wanita yang baik . Dia tidak suka membedakan mana anak kandungnya dan mana
tidak . Dia memperlakukan kami dengan sama . Setiap natal , dia memberikan kami
hadiah yang harganya sama , terkadang aku diberikan sedikit lebih mahal karena
aku anak sulung . Kami sering bertukar kata . Dan aku mengakuinya sebagai Ibu
kandung yang tak pernah kutemui hanya dalam pertemuan pertama .
“ Setiap
manusia dilahirkan sama , tidak ada yang bisa membedakan manusia satu dengan
lainnya . Status sosial hanya ada sebagai identitas , bukanlah alat untuk
menindas yang lemah . Ingatlah itu baik-baik , Andrew ... “ Itulah kata-kata
yang paling sering disebutkan olehnya . Dia menyebutkannya setelah misa paskah
di gereja . Setelah mengucapkannya , dia memberikan rosario kesayangan yang
selalu dikenakannya kepadaku sebagai jimat perlindungan pribadi .
Nenek
tentu tidak senang akan itu . Nenek takut ikatanku dengan keduanya terlalu kuat
hingga beliau sulit untuk mengeluarkanku dalam keluarganya . Aku sadar akan hal
itu , karena ketika aku menyadarinya , Aku sudah menemui diriku di desa tempatku
dilahirkan . Aku tidak senang akan itu , melainkan merasa terkurung . Hidup
dengan 2 pelayan dan 1 koki di rumah yang besar . Tanpa kehangatan . Pelayan
dan koki dirumah sulit diajak bicara . Mungkin karena aku kurang terbiasa akrab
diluar teritori Ibu dan adik tiriku .
Aku pun
menoleh ke arah jam dinding di sudut ruangan . Kutepuk pundak John yang tengah
duduk sambil menulis sesuatu dna berkata ,
“ Bukankah
sekarang waktunya kau kembali , John ? “
Dia meraih
arloji yang disimpan di tas coklat ala militernya . Dan aku pun menerik salah
satu alisku saat dia menepuk dahinya dan mengutuk dalam bahasa inggris yang
fasih . Ah , anak muda .
“ Maaf
sudah menahan Anda begitu lamanya , Tuan Sonnnatés ! Terima kasih atas
informasi dan panduannya . Saya sangat berterima kasih kepada Anda ! “ jawab
John , sambil menggaruk kepalanya .
Aku
bangkit dari kursi rotan impor yang kududuki sambil bernostalgia . Kami
berjabat tangan dan sedikit berbincang ringan .
“ Kau
berasal dari negara mana , John ? “
John ,
hanya menangguk pelan sambil tersipu , setelah puluhan detik berlalu dengan
cepatnya , dia pun menjawab , “ Italia , tapi aku sangat merindukan kampung halamanku
. Aku terus dicemasi oleh fikiran tentang Ibu dan Adik perempuanku disana .
Surat sudah sulit diraih , apalagi e-mail .
Pembayaran teleponku habis hanya untuk log in sambil menunggu kabar dari Adikku
... “
Melihat
ekspresinya , aku ikut prihatin . Aku mengerti perasaanmu John . Kita pernah
berada dalam keadaan yang sama .
“ Ayahku
orang Italia , tapi beliau lahir di Jerman . Kau lahir dimana ? Kota besar ?
Seperti Rome ? “
tanyaku pelan . Semoga pertanyaannku sekarang tidak menyingggung perasaannya .
Untungnya
, senyumanlah yang mengembang di wajahnya , sepertinya dia dilahirkan dalam
keluarga bahagia .
“ Tidak ,
aku lahir di villages
reculés , L’illusion de la nuit . Desa yang sangat indah dan
bebas polusi udara . Setiap malam , udaranya sangat jernih dan banyak penderita
paru-paru tinggal atau bermalam disana . Bahkan sekarang sudah ada klinik
spesialis paru-paru . Yah , lingkungan yang mendukung mempelopori berdirinya
klinik itu . Sekarang sudah cukup terkenal .”
Sebuah
hantaman yang keras menusuk hatiku . Bukan dikarenakan oleh penyakit ,
melainkan ingatan yang sudah berpuluh-puluh tahun berkecamuk dan menyakiti
sanubariku . Ingatan dimana aku masih sangat muda dibandingkan aku yang
sekarang . Dimana aku belajar sebetapa menyakitkannya cinta itu , terutama
cinta yang membunuh tiap sel di otakku sejak hari itu ...
Ya , tidak
ada salahnya bernostalgia sebentar ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar