Kamis, 05 September 2013

Minuit Mémoire novel :: Prologue

Prologue


“ ... senjata ini bernama MG 15 , sebuah pistol mesin yang dibuat oleh Jerman . Ukurannya 7,92 mm. Secara spesifik , Pistol ini didesign sebagai pistol pertahanan dengan manipulasi tangan dalam pertempuran udara sejak awal 1930-an ... “
Seorang calon prajurit prancis yang memperkenalkan dirinya sebagai John Cappeirene mengangguk , mendengarkan tiap kalimat demi kalimat yang terucap dari mulut cerewetku dengan seksama . Entah mengapa , aku merasakan tekad yang membara di dirinya . Dia adalah aset negara yang wajib dikembangkan .
Aku terus melanjutkan penjelasan pada tiap senjata yang terpapang di Galeri sebelah rumahku . Sejak aku berhenti menjadi seorang penulis puisi dan penerjemah pada masa Perang Dunia Ke-2 , aku ikut turut membantu tetanggaku yang memiliki Galeri berpampangkan senjata dan alat tempur di masa itu . Secara pribadi , aku menyukai hal yang berbau historis dan kuno sejak masih muda . Jadi , walaupun aku sudah tidak lebih dari pak tua berumur 89 tahun , aku tidak ingin ketinggalan zaman oleh generasi muda . Aku terus memperbarui otak yang mulai menua ini dengan hal-hal baru dan segala hal yang menarik perhatianku .
Terkadang , aku ingin keluar dari rutinitas ini , terus dikelilingi oleh benda-benda yang membangkitkan hal yang tidak mengenakkan . Namun apa daya , sebagai salah seorang saksi hidup perang yang masih tersisa , aku harus terus bercerita layaknya kakek kepada cucunya kepada pengunjung .
Tanganku menujuk ke arah lukisan seorang tokoh yang tergantung di sebelah mesin yang diciptakan oleh Arthur Scherbius di akhir Perang Dunia pertama . John pun mengikuti arah jari telunjukku ,
“ Vinzenz Kaiser , oberstarmbonnführer , atau letnan kolonel di wolfen selama Perang Dunia ke-2  . Dia orang yang sangat terkenal . Dia menerima berbagai penghargaan . Salah satunya adalah ‘The Knight’s Cross of The Iron Cross ‘ . Penghargaan itu diberikan sebagai lambang dari keberanian dalam perang yang besar atau keberhasilan dalam kepemimpinan oleh Nazi , Jerman , selama Perang itu ... “
Aku terus mengoceh tentang tokoh perang , senjata , dan hal lainnya . Selama apa yang kuceritakan adalah yang diinginkan oleh John untuk dipelajari , Aku tidak lagi merasa lelah .
Sepanjang hayatku , Aku tidak memiliki status sosial yang tetap . Mungkin Anda sekalian bertanya-tanya , apa pekerjaanku dan latar belakangku . Maka akan Saya jawab .
Nama Saya Andrewwit Sonnatés , keturunan Jerman-Prancis . Aku lahir di villages reculés , L’Illusion di tepi Prancis dan dibesarkan di Munich , Jerman . Setelah aku berumur 32 tahun , aku meneruskan risetku di Universitas Oxford , Inggris dan mengajar disana pula sampai Perang Dunia bergejolak .
Aku dilahirkan sebagai putra ‘haram ‘ . Ibuku adalah putri kedua Mantan Perdana Menteri Prancis yang cukup termasyur . Ayahku sendiri adalah bangsawan Italia yang merantau ke Jerman . Menurut Ayahku , keduanya bertemu dibawah jembatan ketika Ibu hampir saja dibunuh oleh suruhan musuh politik ayahnya . Sejak pertemuan itu , keduanya dilanda jatuh cinta . Keadaan memaksa keduanya untuk bersatu , terutama sejak Ibuku hampir terbunuh lagi . Ayahku melarikan Ibu ke desa terpencil dimana aku dilahirkan , yang bernama Villages L’illusion , berarti desa ilusi .
Keluarga pihak Ayah tidak menerima hal itu . Ibuku sudah dikeluarkan dalam daftar nama keluarga Ayahnya . Itu berarti Ibu sudah tidak lebih dari rakyat biasa . Saat Ibu mengandung , beliau terus didesak oleh Nenek dari Ayah , mengakibatkan aku dilahirkan tanpa Ibu . Stres membuat Ibu tak sanggup dan meninggal dalam proses melahirkan .
Ayahku berduka dalam 5 tahun . Tentunya , pihak keluarga Ayah terus mendesak Ayah untuk menikahi pilihan yang dipilihkan oleh mereka . Dan akhirnya , dengan ancaman dan Aku sebagai objeknya , Ayah mengalah dan menikahi keluarga bangsawan Polandia , menghasilkan adik laki-laki bernama Austin Sonnatés .
Aku menyayangi adikku . Dan Austin juga menyukaiku . Kami seperti saudara se-Ibu se-Ayah . Walaupun kami dilahirkan dengan Ibu yang berbeda . Ikatan batin kami sangat kuat . Terkadang , tidak diperlukan lagi kata-kata untuk menyampaikan sesuatu . Hanya dengan tatapan , kami sudah memahami kebutuhan masing-masing .
Ibu tiriku juga wanita yang baik . Dia tidak suka membedakan mana anak kandungnya dan mana tidak . Dia memperlakukan kami dengan sama . Setiap natal , dia memberikan kami hadiah yang harganya sama , terkadang aku diberikan sedikit lebih mahal karena aku anak sulung . Kami sering bertukar kata . Dan aku mengakuinya sebagai Ibu kandung yang tak pernah kutemui hanya dalam pertemuan pertama .
“ Setiap manusia dilahirkan sama , tidak ada yang bisa membedakan manusia satu dengan lainnya . Status sosial hanya ada sebagai identitas , bukanlah alat untuk menindas yang lemah . Ingatlah itu baik-baik , Andrew ... “ Itulah kata-kata yang paling sering disebutkan olehnya . Dia menyebutkannya setelah misa paskah di gereja . Setelah mengucapkannya , dia memberikan rosario kesayangan yang selalu dikenakannya kepadaku sebagai jimat perlindungan pribadi .
Nenek tentu tidak senang akan itu . Nenek takut ikatanku dengan keduanya terlalu kuat hingga beliau sulit untuk mengeluarkanku dalam keluarganya . Aku sadar akan hal itu , karena ketika aku menyadarinya , Aku sudah menemui diriku di desa tempatku dilahirkan . Aku tidak senang akan itu , melainkan merasa terkurung . Hidup dengan 2 pelayan dan 1 koki di rumah yang besar . Tanpa kehangatan . Pelayan dan koki dirumah sulit diajak bicara . Mungkin karena aku kurang terbiasa akrab diluar teritori Ibu dan adik tiriku .
Aku pun menoleh ke arah jam dinding di sudut ruangan . Kutepuk pundak John yang tengah duduk sambil menulis sesuatu dna berkata ,
“ Bukankah sekarang waktunya kau kembali , John ? “
Dia meraih arloji yang disimpan di tas coklat ala militernya . Dan aku pun menerik salah satu alisku saat dia menepuk dahinya dan mengutuk dalam bahasa inggris yang fasih . Ah , anak muda .
“ Maaf sudah menahan Anda begitu lamanya , Tuan Sonnnatés ! Terima kasih atas informasi dan panduannya . Saya sangat berterima kasih kepada Anda ! “ jawab John , sambil menggaruk kepalanya .
Aku bangkit dari kursi rotan impor yang kududuki sambil bernostalgia . Kami berjabat tangan dan sedikit berbincang ringan .
“ Kau berasal dari negara mana , John ? “
John , hanya menangguk pelan sambil tersipu , setelah puluhan detik berlalu dengan cepatnya , dia pun menjawab , “ Italia , tapi aku sangat merindukan kampung halamanku . Aku terus dicemasi oleh fikiran tentang Ibu dan Adik perempuanku disana . Surat sudah sulit diraih , apalagi e-mail . Pembayaran teleponku habis hanya untuk log in sambil menunggu kabar dari Adikku ... “
Melihat ekspresinya , aku ikut prihatin . Aku mengerti perasaanmu John . Kita pernah berada dalam keadaan yang sama .
“ Ayahku orang Italia , tapi beliau lahir di Jerman . Kau lahir dimana ? Kota besar ? Seperti Rome ? “ tanyaku pelan . Semoga pertanyaannku sekarang tidak menyingggung perasaannya .
Untungnya , senyumanlah yang mengembang di wajahnya , sepertinya dia dilahirkan dalam keluarga bahagia .
“ Tidak , aku lahir di villages reculés , L’illusion de la nuit . Desa yang sangat indah dan bebas polusi udara . Setiap malam , udaranya sangat jernih dan banyak penderita paru-paru tinggal atau bermalam disana . Bahkan sekarang sudah ada klinik spesialis paru-paru . Yah , lingkungan yang mendukung mempelopori berdirinya klinik itu . Sekarang sudah cukup terkenal .”
Sebuah hantaman yang keras menusuk hatiku . Bukan dikarenakan oleh penyakit , melainkan ingatan yang sudah berpuluh-puluh tahun berkecamuk dan menyakiti sanubariku . Ingatan dimana aku masih sangat muda dibandingkan aku yang sekarang . Dimana aku belajar sebetapa menyakitkannya cinta itu , terutama cinta yang membunuh tiap sel di otakku sejak hari itu ...

Ya , tidak ada salahnya bernostalgia sebentar ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar