Minggu, 14 April 2013

Vitula 3 Remake : 2 Part 2


¨Note 2 Part 2¨
_Otomi’s part
Badanku selalu berakhir dengan pegal di bahu dan dagu setiap selesai latihan . Baru kali ini aku merasakan kelelahan separah ini . Biasanya setiap pulang latihan , aku latihan  lagi di ruang latihan khusus di sebelah kamar tidurku . Tapi , akhir-akhir ini aku sudah tidak latihan lagi di ruang latihan  yang bercat nila dengan grand piano di sudut sebelah kiri . Dan semuanya karena pengiring baruku yang mengesalkan mentang-mentang jenius dan murid kebanggaan Universitas . Mana lagi Universitasnya itu  Universitas musik paling elit di Jepang , yang mau berapa tahun mencoba pun tak mungkin kutembus ! Orang itu sama sekali tidak bisa membedakan mantan murid Universitas kurang terkenal , jurusan hukum dan memiliki gangguan mata dengan murid jenius yang tidak perlu belajar lagi dan  dapat memainkan segala alat musik !
Dia selalu memaksakan semua suara yang dikeluarkan dari gesekan senar biolaku harus pas . Aku memang Violinis veteran tapi aku bukan Paganini ! Paganini dapat memainkan biola dengan not sempurna dengan mudahnya , sedangkan aku mana mungkin bisa . Dan biola ini juga sedikit rusak gara-gara aku sebelumnya . Kalau dipikir-pikir , seharusnya aku tidak membiarkan biola yang ada ditanganku ini sampai rusak begini . Maafkan aku , Sora ... aku sudah mengecewakan dan mengungkiri keinginanmu untukku melanjutkan musik klasik saat itu .
“ Nadamu salah ! Kau harus lebih menekan pada bagian ini ! Suaramu jadi pecah tadi karena kau terlalu menaikkan bow-mu ! Dan posisi kepalamu miring ke kanan 3mm keluar dari kesempurnaan posisi ! Apa kau tahu posisi kepala juga mempengaruhi permainanmu hah ? Aku dengar kau ini proffesional . Tapi nyatanya kau sama saja dengan Pemula ! Kau ini menipu masyarakat umum apa dengan kekuatan mistis dan sejenisnya ? Ulangi sekali lagi ! “ kata-katanya yang diiringi bimbingan spartannya . Saking sering mendengarnya , aku jadi hafal semua kata-katanya . Dan lagi , aku mana mungkin punya kekuatan mistis ? Kau saja yang alien ! Jangan-jangan dia suka baca komik cewek ? Hahaha ...haa .. tapi bukannya dia ini komikus komik cewek , ya ?
“ Sudah kubilang kau harus menekannya di bagian itu ! “ katanya lagi memecah kesunyian . Arghh! Orang ini maunya apa sebenarnya ? Aku sudah menekannya dengan baik ! Apa telinganya rusak ? Eh , aku tidak boleh bicara seperti itu mengingat mataku sendiri tak lama lagi buta sepenuhnya . Dan tidak baik menge ..
Benar juga . Aku sudah lama tidak memeriksakan diri tentang keadaan mataku .Entah kapan aku bisa ...
“ Hei ! Apa yang kau lakukan ? Ikuti iringannya dan jangan biarkan suaranya terbelah ! “ Rasanya aku ingin membunuhnya karena mengagetkan diriku seperti itu . Teriakan keras bagaikan tarzan itu membuyarkanku disaat aku memikirkan hal yang jarang kuperhatikan dan penting . Uarghhh!! Akhirnya aku lupa apa yang kupikirkan sebelumnya !!!
“ Kau sendiri ! Bisakah kau sok memerintahkanku , Nakashiki-san ? Jangan seenaknya menganggap aku ini selevel denganmu ! Aku bukan jenius ! Aku cuma orang biasa dengan biola di tangannya ! “ protesku .
Dia melanjutkan permainan pianonya . Lalu dia memasang sorot mata bagaikan ingin menyiksaku seumur hidup . Dan terima kasih atas sorot mata itu , tanganku terus bergegar karena ketakutan ! Plus !! aku semakin tidak konsentrasi memainkan lagu Henryk Wieniawski dan Frederick Chopin yang kebanyakan bertempo cepat itu . Apalagi judul lagu yang akan kubawakan untuk recital minggu depan adalah Opus 17 Etudes-Caprices na dwase skrzypiec dan Fantaisie Impromptu . Mengalihkan versi piano ke biola tanpa menulis dan otodidak mana bisa dilakukan dalam 10 menit ini !
“ Apa tidak ganti lagu saja ? Di recital kau memainkan karya Henryk Wieniawski . Kalau memainkan lagu karyanya lagi , Penonton akan bosan “ usulnya .
Benar juga katanya . Mendengarnya aku sudah tidak bergegar lagi . Justru aku sibuk mengobrak-abrik lemari untuk menemukan album partiturku .
Gabriel Urbain Faure bagaimana ? atau Niccolo Paganini ? Antonio Vivaldi ? Giuseppe Tartini ? Edvard Grieg ? Johannes Brahms ? Johan Sebastian Bach? atau .. Apa lagi ya, yang bagus ? “
“ Apa saja asalkan kau bisa memainkannya dengan mudah dan lebih baik dari sebelumnya “ katanya sambil tersenyum lembut .
Eh ? apa maksudnya ? Tu-tunggu ... Apa dia menyemangatiku ?
“ Te ..terima kasih .. “                                            
“ Bukan apa-apa . Hanya saja aku akan dipecat kalau kau berhenti . Jadi mau tidak mau kau harus sukses atau aku akan kesulitan untuk membiayai uang iuran “
Kejam sekali kata-katamu , Nakashiki Sara ! Memperlakukanku seolah pembiayamu kuliah ! Aku bukan Ibumu ! Padahal namamu seperti nama perempuan . Tidak ! Tidak hanya itu ! Dengan wajah dan gaya rambutmu yang seperti gadis  itu .... Berani-beraninya kau mengejekku ...
Aku pun memutuskan untuk membawakan Caprice 1 dan 2 nya Niccolo Paganini . Dan aku sengaja memilih salah satu lagu yang paling sulit di album partiturku demi menantangnya . Asalkan aku dapat memainkannya dengan bagus , dia akan bersimpuh dibawah kakiku sambil mengatakan , “ Maafkan aku , Guru Besar Tenji Otomi ! Aku sangat bodoh untuk tidak menyadari kejeniusanmu ! Aku sangat besar kepala dan bodoh ! Juga aku.....
“ WOIIIIIIIIIIII?????????????????KAU DENGAR TIDAK APA YANG KUKATAKAN TADI HAHHHHHH????? “ Pekiknya mengejutkanku .
Dia adalah manusia yang paling setan daripada setan...
···
Aku sudah tidak kuat lagi ! makhluk itu terlalu mengesalkan !
Seandainya aku tidak menggaungkan fantasi yang tidak mungkin terjadi di dunia ini , aku pasti sudah lebih relax . Pilihanku untuk menantangnya sudah bagaikan senjata makan tuan . Seharusnya kubawakan saja Violin Sonata in G minor nya Giuseppe Tartini atau Nocturne in C Sharp Minor nya Frederyk Chopin  . KENAPA AKU HARUS MEMILIH CAPRICE 1-2?????
“ KAU INI TERLALU BERLAGU ! AKHIRNYA TIDAK BAGUS KHAN ? PENONTON SAJA SUDAH DITIPU OLEHMU DI RECITAL WAKTU ITU ! UNTUK MEREKA TIDAK PUNYA PENCIUMAN MUSIK YANG TAJAM ! ADA BANYAK KESALAHAN YANG KAU LAKUKAN ! APA SIH MASALAHMU ??? PADAHAL VIDEO RECITALMU WAKTU SMA LEBIH BAGUS ! KAU INI MAKIN TUA MAKIN BERKURANG KEPIAWAIANMU ! “ tidak perlu kau bilang aku sudah tahu . Masalahnya , aku masih belum begitu terbiasa dengan memainkan biola dengan mata terpejam sepenuhnya . Nyonya Sakai , tolong aku !
Tapi Nyonya Sakai pasti akan marah besar padaku . Dan kalau aku memintainya tolong dimasa liburan panjangnya , aku sudah menjadi murid yang kualat . Aku benar-benar manusia yang hidup dengan banyak pilihan .
 “ Aku tidak suka sikapmu yang seenaknya itu . Tidak .. bukan seenaknya .. tepatnya MENGESALKAN . Kau terlalu menganggap remeh lagu karena ingin menantangku ini yang selalu keras padamu khan ? “
Hah ? Apa tadi ? Bilang apa ? Apa bilang ? Jangan-jangan dia bilang kalau ... HUARGHHHH!!!!!! Dia bisa membaca pikiranku ! Dia alien ?
Sudah pasti dia alien . Eh , bukan ! Setan yang lebih setan dari setan ! Benar sekali !
Dia meminum kopinya dengan santai sambil menghela nafas , “ Apa kau sadar kalau kau sudah menghina Niccolo Paganini yang bersusah payah membuat sebuah mahakarya ? Dengan sikapmu itu , secara tidak langsung kau menghina Paganini . Tidak hanya Paganini , juga seluruh pemusik di dunia termasuk musik itu sendiri “ katanya .
Aku terdiam . Merenungi dan meresapi maksud ucapannya . Menghina .. musik ? Aku ?
Memang benar . Seperti katanya . Aku tidak pantas menyebut diriku Violinis jika aku bahkan tidak tahu hal semudah itu . Aku ini memang ...
“ Hei “
“ Ya ? “
“ Pernahkah kita bertemu sebelum recitalmu di Tokyo waktu itu ? “
Tidak . Dan aku berharap tidak !
“ Sama sekali tidak dan aku berharap tidak sama sekali “
“ Kau marah ? “
“ Pastinya ! Sebagai pengiring kau seharusnya gak segitunya juga! “
“ Aku harus tegas demi kelancaran recitalmu kedepannya . Kalau kau terus dimanjakan , kau takkan maju seperti masa kejayaanmu yang punah itu “ jawabnya tenang .
Baru kali ini aku melihatnya dengan raut wajah itu . Dia terus menatapku dengan tatapan mencurigakan . Apa dia masih berkutat dengan pertanyaan sebelumnya ? Tapi kuakui memang serasa aku sudah mengenalnya lebih lama dari ini . Apa ini kebetulan ? Sudahlah , mengaku saja ! daripada dia menatapmu seperti harimau kelaparan itu , Otomi .
Ah ... gara-gara dia aku malah berbicara dengan diriku sendiri berkali-kali ... ah sudahlah ! Katakan saja , habis perkara !
“ Aku memang merasa aku pernah bertemu denganmu juga ... Jadi berhentilah menatapku seperti itu , Nakashiki-san ! “ protesku . Dia cukup terkejut nampaknya . Sepertinya dia berfikir seperti ini , ‘ Benar juga ‘ atau ‘ Bagaimana dia bisa tahu ‘
Dia pun bangkit dari kursinya . Membawa secangkir kopi yang sisa ampas itu bersamanya . Kepalaku ditimpali seribu pertanyaannya . Apa yang dilakukannya ? Apa dia mau berlagak model iklan kopi instan ?
“ Kalau begitu , aku harap apa yang kau katakan memang benar ... tapi .. ah , tidak . semoga saja kau bukan dia ... “ katanya dengan raut wajah yang menyedihkan .
‘ Dia ‘ ? kekasihnya ya ? Tapi kenapa dia tidak mau menemuinya ?
Tidak kusangka sosok iblis Nakashiki Sara juga bisa merasakan apa itu cinta ya ... Wajahnya memancarkan aura kesepian yang mendalam dan kepahitan yang kelam . Dia cukup mengingatkanku dengan masa laluku ;
‘ Sora ! aku mohon padamu ! bangunlah Sora ... ‘
Diriku yang dulu . Maupun diriku yang sekarang selalu mengharapkan hal yang mustahil . Pada akhirnya yang bisa kulakukan hanya menangis setiap mengingat atau teringat akan masa laluku . Menangis dan menangis . Padahal aku sudah tahu kalau menangis tidak akan merubah apapun .
Kutarik ujung jasnya . Dia berhenti dan menatapku dengan aneh . ‘ Apa yang dipikirkannya ‘ pasti itulah yang dipikirkannya saat ini . Aku yakin sekali dia berfikiran seperti itu . Tapi , setidaknya ... Seandainya aku bisa sedikit membantunya ...
“ Kau ... Kau jangan berfikiran seperti itu ... Aku .. Selama ini aku selalu berharap dapat bertemu dengan orang itu ... Jadi ... Jangan .. Jangan sekali-kali kau berfikir bahwa DIA TIDAK PENTING ! “ kataku padanya . Matanya terbelak . Terlihat jelas pula bola matanya yang merah kecoklatan .
Dia membalikkan tubuhnya . Wajahnya kosong . Seakan jiwanya pergi entah kemana . Kenapa bisa begitu ?
“ K.. kau .. bagaimana kau bisa tahu k-kalau .. “
Ternyata memang benar . Kau ini selalu memarahiku , menyelotehiku , menghinaku , menyadarkanku ... Bagaimana aku bisa tidak tahu ?
Kita memang bertemu tidak begitu lama . Baru jauh hari ini , kita saling mengenal . Tapi, wajahmu tadi , kepahitanmu mungkin sama denganku . bagaimana kau bisa berfikiran bahwa cinta itu bisa dilepaskan begitu mudahnya ? Kalau memang benar aku mirip dengan orang yang kau sukai , pasti sejak dulu kau menolak pekerjaanmu saat ini ! Tidakkah itu benar , Nakashiki Sara ?
Aku tidak mengerti apa yang kupikirkan saat ini . Cintaku kepada Sora sangat besar , cukup besar untuk membuatku tidak ingin jatuh cinta lagi dan mengukir namanya sedalam mungkin dihatiku . Tapi , jika ada hal yang bisa kulakukan demi orang didepanku saat ini ... Aku ...
“ Aku ingin menjadi kekuatanmu ! Maka dari itu jangan sekali-kali kau berfikiran seperti itu ! “
Eh ? Mengapa ? Siapa ? Dimana ? Bagaimana ? eh ? HEEEE?
Apa-apaan yang kukatakan ini ? Dia pasti mengira yang macam-macam ! Padahal kami gak akur dan~~ TIDAKKKK!!!! AKU INI BODOHNYA TERLALU !!!
Dia nyengir , ekspresinya berubah . Nah , untuk kali ini aku tidak mampu pikiran macam apa yang ada di otaknya itu .
“ Kau... Jangan-jangan ... Menyatakan cinta kepadaku ? “tanyanya usil .
“ APAAAA???? “
Apa-apaan dia ini ? Ya ampun ! aku gak tahu harus bilang apa lagi ! Otakku tidak mampu mencerna dengan baik ! Bukan itu maksudku , Bodoh !
“ Jadi selama ini kau berpura-pura membenciku ? Agar segalanya terjadi seperti apa yang ada di shoujo manga ? “
Hah ? Kau kira aku ini perempuan macam apa ? Asal kau tahu ya ! Aku bukan cewek lugu dan bodoh yang menganggap cinta itu prioritas nomor satu ! eh .. tidak Juga . Kau di masa lalu seperti itu ...
‘ Demi menjadi teman Sora , aku akan belajar segiat mungkin ! ‘
‘ Aku ingin berada disampingnya , menjadi orang yang berguna baginya .. di saat terakhirnya kelak ‘
Sekali lagi fantasi masa lalu menghantuiku  . Sampai kapan aku akan terpuruk di masa lalu begini . Aku mengerti sekarang . Apa yang kulakukan saat ini , semuanya karena Sora . Kembali merajut karier yang kutinggalkan , berjuang mendapatkan perhatian Ny.Hayashi , bermusik di panggung ... semuanya karena Sora ...
Aku hanyalah manusia yang kosong . Tanpa impian sejati . Impian yang kumiliki selama ini karena orang lain .
“ Aku ini .. ternyata tidak pernah melakukan apapun demi diriku sendiri .. semuanya demi dia ... padahal aku sudah tahu .. uh .. kalau dia ... sudah jauh ... “
Aku pun bersimpuh sambil menangis . Air mataku sudah tak dapat terbendung lagi . Padahal aku sudah tahu bahwa Sora sudah tidak ada lagi . Dia sudah tak ada di dunia ini lagi ! Apa yang kucari ? Apa yang kupikirkan selama ini ? Dan apa yang selama ini kulakukan?
Tapi , seandainya dia masih bernafas pun , apakah dia mau menjadi temanku ? Segalanya ... hanya demi keegoisanku semata . Walaupun egois dan kepuasanku sendiri , intinya tetap sama ; Demi menjadi temannya dan berguna di saat terakhirnya .
Kenapa aku tidak punya alasan yang egois ? Misalnya , menjadi satu-satunya orang yang berguna agar aku menyisahkan kesan di hatinya ? Atau memaksanya menjadi teman secara tersembuyi ? Memikatnya dengan permainan biolaku ? Membuatnya jatuh cinta padaku ... bukankah alasan-alasan itu alasan yang sudah pasti digunakan anak zaman sekarang ini ketika berhubungan dengan hal yang dinamakan ‘ jatuh cinta ‘ ? Bagaimana ku bisa setolol ini ? Semuanya ...
Sara yang sejak tadi tampak kebingungan dengan tingkahku yang diluar kepalanya pun mendekapku kedalam pekukan hangatnya . Aku akui aku sangat kaget . Aku tidak bisa melawan . Kenapa aku tidak bisa melawan ? Padahal aku sudah jelas menyukai Sora . Aku malah membiarkan orang yang tidak kucintai memelukku seenaknya . Apalagi dia orang yang baru kekenal seminggu yang lalu .
Dia hanya berusaha menenangkanku sebisanya . Dia pasti tahun bahwa kata-kata pasti tak cukup untuk menenangkanku . Dan dia pasti berfikir bahwa hanya dengan cara ini dia bisa menengangkanku yang ditenggelamkan oleh kegelapan hati ini ..
“ Terima kasih .. Tapi sekalipun kau melakukan ini ... Takkan mengubah kenyataan bahwa dia akan hidup kembali ... “
Apa yang telah kukatakan ini ... Padahal sudah jelas kalau-
“ Aku mengerti . Aku memang tidak tahu apa yang terjadi padamu dimasa lalu hingga kau segini terpuruknya . Dan aku yakin ada beberapa kata-kataku yang tidak berkenaan dihatimu . Akhirnya justru mengingatkanmu hal-hal yang buruk itu . Maafkan aku ... Akulah yang seharusnya meminta maaf ... “
Bodoh . Buat apa kau meminta maaf . Justru aku harus berterima kasih padamu . Kalau kau tidak menyadarkanku , aku akan teris terpuruk dalam bertehun-tahun lamanya . Terima kasih ... Nakashiki Sara .
Malam itu , kata-katapun sudah tak dapat diucapkan lagi . Kami tenggelam dalam perasaan yang bercampur aduk . Meratapi masa lalu yang tidak kami ketahui akan sampai kapan terus berlanjut .
***
“ Hei ! Mau sampai kapan kau berdandan hah ? perempuan memang lembet ya “, omel Sara didepan pintu kamar rias .
“ Iya ! Tu-tunggu sebentar ! Aku kesulitan menaikkan resleting gaunku ! “ jawabku jengkel sambil berusaha menaikkan resleting gaunku . Sialan ! Berat badanku mulai naik ! Selama ini aku tak pernah memperhatikan penampilan . Ibu dan putri Ny.Hayashi yang sepertinya bernama Sayo itu yang selalu menyuruhku berdandan .
Sekali lagi , kejadian langka terjadi padaku . Aku yang tidak begitu memperhatikan penampilan malah kesal dengan yang namanya kegemukan dan sepertinya berfikiran untuk diet . Apa yang terjadi padaku sebenarnya .
Tapi , kuakui malam kemarin itu seperti mimpi saja . Awalnya kami bertengkar karena lagu , tapi ujung-ujungnya kami saling meratapi masa lalu . Hal yang hanya terjadi pada shoujo manga .  Tidak ! Aku tidak boleh membuat otakku menjadi manga mode ! Ini kenyataan !
“ Kalau kau kesulitan , akan kubantu kau . “ katanya dari luar .
“ Ah ! Berengsek lu ! Diam disana dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk masuk ! Dasar genit ! “ pekikku dari dalam rias .
HA ! akhirnya bisa juga ! luar biasa si alien Sara ! Baru saja dia me .. eh .. tu-tunggu dulu ! Ini usahaku sendiri lho ! Ah , aku ini bodoh sekali . Aku menganggap dia ini sumber segala kebahagiaan atau seperti itulah .
Padahal , selama ini ... aku berhutang budi pada Sora .
“ Sudah ? “
“ SUDAH ! AKU KELUARRRrrr SEKARANG !! “ pekikku kesal .
Dia ini gak sabaran banget sih !
Aku pun keluar dari ruang ganti . Dia tampak cukup kaget . Ngapain bah dia melihatku seperti itu ? Mau menertawaiku ? Silahkan tertawa sebisanya !
“ Dandananmu tak buruk “ pujinya sambil tertawa .
Ah~ sekali lagi aku dikeributi oleh kesialan , disambar petir , terjatuh kedalam jurang tanpa ujung dengan tengkorak disampingku . Begitulah cara menggambarkan perasaan setiap orang yang melihat senyuman iblis nan menyeramkan bin berbahaya dari seorang Nakashiki Sara .
Dia pun sedikit menyelutuk . Lalu dia menyodorkan tangannya yang sudah dilapisi sarung tangan ala opera eropa , “ Shall we ? “ katanya sambil tersenyum ala gentleman .
gentleman ‘ ? jangan bercanda ! Aku tidak boleh jatuh cinta . Aku hanya menyukai Sora dan TAKKAN berubah . Tapi kalau aku emnolak nanti akan berujung seperti di shoujo manga . Jadi , lebih baik kuterima tantangan (?) dari si iblis menyebalkan ini ! Kuraih tangannya dan kami pun  berpegangan tangan bagaikan pasangan yang akan berdansa dalam ball yang diiringi musik waltz . Walaupun sebenarnya justru kami-lah yang akan mengiringi waltz itu .
Para kru menatap kami dengan aneh . Ada yang melirik kami dengan pandangan mengejek dan iri . Ada juga yang seolah menggoda kami dengan bersiul .
“ Ciee-ciee! Cinta antara violinist dan pengiringnya ! “ ejek salah seorang kru .
Hei ! Aku sendiri dari lubuk hati terdalamku tidak menginginkan hal ini terjadi !
Sara tampak sedikit menyelutuk LAGI ! Apa yang lucu hah ? Aku jadikan aku mainan yang bisa kau kerjai setiap hari ? Kau ini cuma pengiringku !
“ Kalau kau proffesional , bersikaplah proffesional dan menatap ke depan “ kata Sara .
Benar juga . Aku harus bersikap proffesional . Bukankah aku sudah berkecimpung dalam dunia ini selama bertahun-tahun ? Aku ini pemusik vveteran ! Ya , kuakui aku sudah kalah dengan pemuda yang hanya berpengalaman 3 tahun dalam musik klasik ...
Kami pun mulai menaiki panggung bersamaan . Inilah panggung terbesar yang pernah diadakan seumur hidupku . Grand recital Tenji Otomi dengan nama panggung Ten-sama .
Tepuk tangan menyambut kami dengan hangatnya . Kupandang sekitarku . Terlebih para penontonku . Seperti namanya , Grand Recital ini adalah recital terbesar yang pernah diadakan untukku . Jadi sudah pasti penontonnya bukan orang sembarangan . Diantaranya adalah pemusik senior dengan berbagai instrumen , kota bahkan negara . Tidak hanya pemusik , ada juga pelatih , pembuat biola dan penggemarku . Ukuran panggung yang digunakan luar biasa besar . Piano yang digunakan untuk mengiringiku juga sangat cantik dan tampak mahal . Sara tampak cukup senang akannya sekalipun dia tak menampakkannya .
Tidak ingin mengecewakan penonton , aku pun mulai memberi aba-aba kepada Sara . Lagu yang pertama kami bawakan adalah Scherzo tarantelle . Saat Sara mulai memainkan pianonya , aku pun mulai beraksi .
Lagu ini memang sangat cocok untuk recital ini . Pertama , musiknya cukup sulit diawalnya dan lembut di tengahnya lalu kembali sulit di akhirnya , gaya musik itu adalah gaya yang paling mudah dihapalkan dan enak didengar . Kedua , aku sudah hapal lagu ini diluar kepala .
Kenapa tidak menggunakan lagu yang sudah kami putuskan kemarin ? itu karena Sara menelponku tadi malam . Dia bertanya apa ada lagu yang tidak perlu latihanpun aku sudah hapal dan lebih mudah kumainkan karena terbiasa . Aku sebutkan beberapa dan diantaranya adalah lagu ini . Dia pun menyuruhku memainkan lagu ini dan dia langsung latihan piano .
Tapi , aku penasaran . Dia terlalu hebat . Melihat lingkar matanya , dia sama sekali tidak bergadang untuk latihan lagu ini . Dia sendiri bilang kalau dia hanya tahu karya Chopin , Beethoven , Mozart dan Bach seumur hidupnya . Selain virtuoso itu, dia sama sekali tidak tahu . Mukanya juga segar . Biasanya , orang yang mengerjakan deadline apalagi hanya 6 jam langsung bisa memainkannya dengan sempurna , sudah pasti mau main berapa kalipun mukanya tetap muka lelah .
Dia begitu he ...
Drrrttt!
Eh ? kenapa ? gelap ... seisi panggung menjadi gelap . Apa yang terjadi disini ?
“ Sara , kau dimana ? “ tanyaku dengan tangan yang masih memainkan biola . aku menggunakan suara yang kecil pastinya .
“ Aku masih bermain , kau sudah tahu pastinya khan ? “ jawabnya . Benar , dia masih memainkan pianonya .
Seperti katanya sebelum menaiki panggung , apapun yang terjadi , kami harus bersikap proffesional . Tidak boleh tu,bang hanya karena hal ini . Kami pun melanjutkan permainan musik kami . Menimbulkan decak kagum kepada penonton . Kami berdua memang sulit melihat reaksi penonton dalam kegelapan ini , tapi kami tetap berkutat untuk bermusik .
“ Plakkk! “ sebuah tangan yang asing menamparku . Aku tidak tahu siapa gerangan yang telah menamparku . Tanganku mulai licin . Musikku berhenti .
“ Tu-tung! Hei !Mau ap- “ belum sempat kulanjutkan musikkku , biolaku hampir terjatuh .
Aku berhasil menangkapnya , dan kusadar pula ada sebuah tangan besar yang ikut mengambilnya . Saat aku berusaha melihat siapa yang ikut membantuku , lampu panggung pun menyala .
Ya Tuhanku ! Ternyata orang itu adalah Sara . Apa yang terjadi dengan sikap proffesionalnya ? dan ditambah lagi .. tangannya tidak mau lepas dariku ! Hei ! Coba kau lihat sorot mata aneh para penonton itu !
“ Sudah kuduga aku pernah bertemu denganmu sebelumnya ! “ dia malah beralih menarik tanganku . Dipandanginya terus wajahku . Aku mulai ketakutan . Hei ! Coba lihat apa yang akan mereka (penonton) pikirkan saat melihat kita bersikap aneh di panggung besar ini !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar