Karena aku bertemu denganmu ...
Untuk pertama kalinya aku merasakan
kehangatan ...
Karena bertemu denganmu ...
Aku mengerti rasa kehilangan
sesosok wanita ...
Karena bertemu denganmu ...
Aku harus mengalami kepedihan yang
sama ...
Apakah harus ... kita dipertemukan
akan tetapi ditakdirkan berbeda seperti ini ?
@Note 3@
Until I Noticed It [ Part 2 ]
Sara membantingkan kepalanya sendiri keatas pianonya .
Dengan keadaan yang sangat menyedihkan . Dia sudah pernah mengorbankan
perasaannya kepada sesosok wanita demi keluarganya dan mengubur jauh nama
Nakamura Sora . Tapi dia tidak menyangka berada sedekat ini dengan gadis yang
dicintainya .
“ Memang benar kata
orang . Cinta pertama itu adalah racun ... “ katanya sambil menggigit ujung
buku partiturnya karena kurang kerjaan .
Kaki disilangkannya . Duduk diatas kursi balkon .
Menghirup udara segar . Dengan sekuat tenaga menenangkan pikirannya yang kelam
. Terbayang sosoknya di masa lalu yang menyedihkan . Sosok yang terus
ditutupinya hingga memikirkannya saja sudah membuat tubuhnya bergetar ketakutan
.
Sang Ayah yang selalu dibanggakannya telah mengorbankan
darah dan liver untuknya . Sejak kecelakaan itu , Sara kekurangan darah begitu
banyak . Ditambah penyakit hatinya yang mulai ganas disaat yang sama . Ketika
dirinya mulai membuka matanya . Tubuhnya sudah terbaring lemas diatas kasur
Rumah Sakit yang keras .
Sang Ibu dengan setia berada disampingnya . Melihat tubuh
putranya mulai bergerak , Sang Ibu sangat bahagia dan memeluk tubuhnya dengan
eratnya . Apalagi putranya tercinta sudah tertidur lemas selama 3 tahun lamanya
. Ibu mana yang tidak senang walaupun hanya satu jari yang bergerak ?
“ Sora .. kamu gak
apa-apa , nak ? sudah tidak sakit lagi ? sudah tidak sakit lagi ?syukurlah kamu
sudah sadar ... anakku sayang .. “ kata Sang Ibu dengan butiran bening yang
mengalir dari pipinya yang putih dan lembut .
Sara mulai menggerakkan tangannya . Meraih Ibunya . Sang
Ibu menggenggam erat tangan Sara dengan bahagianya . Sara pun menangis bahagia
.
Sara menggerakkan kakinya . Menatap sekeliling dan
bertanya , “ Ibu , Ayah kemana ? “
Sang Ibu tak menjawab . Dirinya diam seribu bahasa .
Terpasang wajah sedih dan duka yang mendalam . Sang Ibu semakin keras memeluk
putranya
Dengan berat hati , Sang Ibu menjawab , “ Maaf Sora ..
Ayah .. Ayah sudah meninggal ... “
Sara terdiam kaku . Tangannya dijatuhkan dan
menghantamkan tubuhnya kekasur . Badannya bergetar dengan dasyatnya karena
mendengar hal yang tidak mungkin terjadi . Terutama sosok Ayahnya adalah sosok
yang selalu dibanggakannya dan dijadikannya pacuan untuk maju . Dan Sang Ayah
sudah tak ada .
“ Ayah ... kenapa ?
... Ayah sangat sehat .. “ kata Sara terpatah-patah .
“ begini , Sora .
Karena kecelakaan itu .. kamu kehilangan banyak darah ... livermu semakin rusak ... dan ada beberapa syaraf yang lecet ....
dan ada juga syaraf yang sudah tidak berfungsi .. tapi kamu masih punya harapan
hidup jika ada yang mendonorkan darah yang cukup dan liver padamu .. “ jawab Sang Ibu .
Tangannya berhenti bergetar , bergantikan tangis yang
dasyat . Dirinya bimbang tuk menanyakan . bahwa , ‘ jangan-jangan Ayahlah yang
mendonorkan darah dan livernya ‘
Tak lama setelah kejadian bahagia yang berubah menjadi
duka mendalam . Paman Sara pun datang ke rumah Sara . Sara yang mendiami
dirinya dengan memainkan piano setiap harinya , membayangkan saat dimana dia
bermain piano bersama sang Ayah. Paman Sara prihatin atas kondisinya yang
bertambah buruk .
Dengan jari-jari yang menekan tuts piano dengan lemah ,
Sara bertanya kepada Pamannya yang sudah berada di sudut kamarnya , “ Semalam aku bermimipi bahwa Ayah ada
disini memainkan piano “
Paman Sara menghampirinhya dan menamparnya dengan keras .
Sara kaget karena tamparan yang dasyat , dirinya sampai terpelanting dan
terbaring diatas lantai .
Tangan Paman Sara bergetar , mulutnya mulai mengeluarkan
kata-kata :
“ Jangan pernah
sebut-sebut ayahmu lagi , Sora ! Ingat ! Publik sudah menyiarkan kabar bahwa
ayahmu keracunan . Jika ada yang mengetahui kebenarannya , kau akan dimusuhi
seluruh Jepang ! Ayahmu adalah politikus dan Duta besar , sekaligus Guru besar
Universitas Stradivari yang terkemuka di Jepang !Mendengar kabar bahwa ayahmu
meninggal sudah membuat seisi Jepang menangis . Kau harus hidup sebagai orang
lain . Lupakan masa lalumu semasa SMP dan kembalilah memulai dari awal sebagai
Nakashiki Sara ! di Jepang , pemuda jenius kebanggaan Jepang bernama Nakamura
Sora sudah meninggal ! “ kata Paman Sara dengan volume keras .
Sara terdiam . Dia tidak pernah melihat Pamannya memasang
raut wajah seperti itu , bahkan menamparnya . Sara mengelus pipinya dengan
lembut . Dan matanya pun berkaca perlahan. Melihatnya , Paman Sara menyesali
perbuatannya dan memegang pundaknya . Sara melihat kedalam mata Paman yang
disayanginya dan terkejut . Pamannya ternyata ingin menangis . Padahal Sang
Paman dikenal sebagai pria yang tegar dan berhati baja .
“ Sora , Ayahmu
tidak berharap bahwa dengan mendonorkan livernya kau harus menyekiti dirimu
sendiri . Ayahmu tidak melakukan pengorbanan yang sia-sia . Ayahmu itu cerdas ,
dan dia mempercayakan hidupnya padamu . Hiduplah dengan baik sesuai
keinginannya dan keinginan kami . “ Kata Paman Sara . Sara bangkit dan menyapu
celana panjangnya . lalu dia berkata , “ Paman , aku akan menuruti apapun kata
Paman . Tapi , untuk terakhir kalinya , izinkan aku memberikan sesuatu kepada
orang yang akan segera kulupakan keberadaannya keesokan harinya . Jika Paman
mengizinkannya , aku akan dengan patuhnya menuruti kemauan Paman untuk memulai
hidup baru sebagai Nakashi entah apalah itu “ .
Pama Sara merengut dan mengangguk , “ Baiklah , tapi
pinta saja Ibumu mengirimkan barang yang mau kamu kirik itu . Mengerti ? “
Setelah berkata begitu , Paman Sara mengambil coat-nya dan pergi .
Bagi Sara , membuang identitas aslinya dan memulai
kehidupan baru sebagai Nakashiki Sara adalah hal yang sulit . Seperti melarikan
diri dan membuang segala kerja kerasnya selama ini . Maka dari itu , dia
berusaha . Dengan patuhnya , diikuti kata pamannya itu . Dengan dalih
menyelamatkan keluarganya dari ancaman ‘ Berita palsu kematian Nakamura Kishou
‘ . Sara pun membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa . Mengambil sebuah
violin-case diatas lemari bukunya yang terletak disamping kiri pojok kamarnya .
Diusapnya violin-case itu dan
dibukanya isi violin-case itu .
“ Ini yang terakhir
. Terima kasih atas segalanya dan Maaf , Tenji “ ditutupnya kembali violin-case itu dan menyerahkannya ke
Ibundanya dengan tatapan kesedihan .
“ Bu , bisakah Ibu
mengirimkan biola ini untuk Tenji Otomi ? Paman yang menyuruhku “ pinta Sara .
Ibu Sara mengangguk pelan dan violin-case
itu mulai berpindah tangan . Ibu Sara tersenyum sambil berkata , “ Kamu sudah
banyak mengalami penderitaan . Ibu tidak bisa melakukan apa-apa ... Ini adalah
hari terakhirmu sebagai Nakamura Sora . Jadi Ibu akan kabulkan apapun
permintaanmu , nak “ . Keduanya pun berpelukan erat sambil terlarut dalam
keharuan dan kesedihan .
Hari demi hari berlalu , Sara memulai hidup baru sebagai
‘ orang yang baru ‘ . Sara memulai dari memanfaatkan bakat menggambarnya untuk
menjadi komikus dalam Penerbitan terkenal . Dan berkat karyanya , dia tidak
sengaja mendapatkan bayak kenalan dari berbagai Universitas Musik terkenal
sebagai referensi komiknya .
Berkat saran sahabat barunya di penerbitan , Sara masuk
ke Universitas Stradivari , Universitas disaat ayahnya menjadi guru besar .
Karena kejeniusannya , dia bisa memainkan hampir seluruh alat musik yang
disodorkan padanya dengan batas waktu sehari penuh . Tapi sara tetap fokus ke
piano . Dan melamar ke sebuah agensi entertainment di Jepang . Ditambah lagi
Sara diterima sebagai pianis dan pemusik latar sebuah orkestra
atau panggung musik beberapa musikus terkenal . Tidak puas akan kariernya ,
Sara mencoba untuk meneliti beberapa panggung musik yang sedang terkenal
di-Jepang saat itu .
Tapi , tujuannya yang sebenarnya adalah mencari orang
yang dulu disukainya . Namun pastinya dengan identitas palsu ‘ Nakashiki Sara ‘
, Dia terus menghadiri beberapa konser recital
diberbagai panggung klasik . Tidak hanya recital
, dia juga menjadi juri dan penonton di berbagai violin concours di berbagai kota dan negara .
Tujuannya berakhir pada sebuah konser yang
diselanggarakan Hayashi Conservatorio
Hall . Disaat dia bertemu dengan seorang violinist yang memainkan lagu dengan permainan , intonasi , dan
nada yang sama dengan sosok yang disukainya dimasa lalu . Namun , dengan tangan
yang dikepal dengan kuat , dia melupakan pertemuan itu dan memutuskan untuk
bergerak maju .
Dengan bantuan kenalan yang sama dengan saat mendaftar ke
Universitas Stradivari , Sara mendapatkan penawaran untuk menjadi pengiring
pengganti seorang violinist yang
berhenti karena alasan pribadi . Awalnya Sara menanggapinya dengan tidak serius
dan iseng untuk menghabiskan waktu dan menambah pengalaman .
“ Lagipula kalau
kuterima , dan aku berhasil , aku bisa diterima di perusahaan atau agensi musik
yang paling bagus dan penawaran yang lebih menarik . Lagipula karena dia
terkenal , pasti saat kujual namaku bakal diterima di panggung yang lebih bagus
“ pikirnya .
Namun , pilihannya merupakan gerbang takdir ke-3nya . Violinist yang akan diiringi oleh
permainan pianonya ternyata violinist yang
membuatnya kagum . Violinist yang
dipanggil Ten-sama oleh fansnya dan terkenal melalui video yang menarik
perhatian .
“ Perkenalkan ,
nama panggilanku Ten . Mohon bantuannya “ kata gadis violinist yang menjadi partner-nya .
Senyuman gadis violinist
itu sedikit demi sedikit mengiris hati Sara . Kata-katanya , penampilannya ,
cara berpikirnya , dan bakatnya ... telah berubah menjadi pisau yang sangat
tajam untuk melukai hati pria berumur 19 tahun itu akan traumanya .
Dalam hati , Sara berfikir : Mengapa harus dia ? jika
terus bersamanya , aku akan terus mengingat hal yang tidak seharusnya . Dan
melanggar janji yang kupegang dengan Paman ,
Sara terus mengiringi permainan biolanya dengan harapan “
Dia bukan gadis itu . Tidak mungkin aku bertemu dengannya . Sekalipun benar ,
Aku akan tetap berharap dia bukan gadis itu . Dan kumohon padamu , menjauhlah
dariku “
Namun , segalanya
menjadi jelas setelah kejadian malam itu ...
“ Tenangkan dirimu , Ten ! kau
tidak bisa ... “ Kata sara terhenti diujungnya . Badannya seakan digetarkan
oleh perasaan yang dialirkan oleh Ten . Badannya sampai ikut merasakan getaran
yang dasyat . Dan kemarahan yang pekat . Sara sudah tahu bahwa jika dia
menghentikannya sekarang , gadis itu akan sangat liar dan siap membunuh
siapapun mendekatinya . Sara penasaran , ‘ Apa arti biola itu sampai membuatnya
sekejam dan seliar ini ?’
“ Ten , aku takkan
mengentikanmu untuk sekarang . Tapi izinkan aku bertanya padamu .” kata Sara .
Ten terus berjalan .
“ Jangan habiskan waktuku untuk
menjawab pertanyaan bodohm ..”
“ Seberapa besarnya keberadaan
biola itu dan seberapa besar pentingnya biola itu bagimu ? hingga kau bertindak
sejauh ini ? “ sela Sara .
Langkah Ten terhenti . Matanya
mulai menitikkan air mata dengan lembutnya . Badannya berhenti bergetar , namun
berganti tangan dan rahangnya yang bergetar . Digigit ujung bibirnya dengan
gigi putihnya . Sara kaget dengan ekspresi yang baru pertama kali ini
dilihatnya dari sosok seorang ‘ Ten-sama ‘. Dia menjadi merasa bersalah sudah
membuatnya sedih seperti itu . Tapi jika dia tidak tahu , takkan memecakan
masalah yang menghantui hatinya saat itu .
Violinist itu membalikkan tubuhnya dan menjawab , “ Biola itu aalah
peninggalan terakhir orang yang aku sukai .. dia membayarnya sebagai ganti atas
biola yang dulu kujual demi membiayai pengobatannya . Pada akhirnya , aku
merasakan keberadaannya melalui biola itu .. tapi ... “
“ ‘ Merasakan keberadaan ‘ ?
memangnya orang yang kau sukai itu kemana ? sampai kau menjadikan biola itu
pengganti dirinya ? ah , aku tahu ! kau
ditolak olehnya dan dia pindah ke luar kota atau semacamnya ? “
“ Jangan bicara seakan kau tahu
segalanya tentangku ... kau tahu apa tentang gadis yang dengan mata-kepalanya
sendiri menyaksikan orang yang dicintainya , satu-satunya orang yang
menyelamatkan hidupnya dari dilema keluarga berkepanjangan ... TERBUNUH ,
BERLUMURAN DARAH DIDEPAN MATANYA ? KAU TAHU APA ? “
Sara tersentak , dia baru mengetahui
luka terdalam hati Ten yang dikenalnya sebagai violinist manja tidak tahu diri . Dan ...
“ Tunggu dulu .. jangan-jangan
... kau ...Tenji Otomi ? “
“ Iya ! “
“ Siapa nama orang yang kau sukai itu ... ?”
Otomi menggigit bibirnya .
Mukanya berubah menjadi merah .
“ Na .. Nakamura Sora . Tapi
bukankah sudah cukup ? kau tidak perlu menanyakannya lebih lanjut ! Kau tahu
apa tentang aku ? sudahlah , biarkan aku sendirian ! “
Pada umumnya , jika seseorang
melihat ekspresi dan ledakan emosi Ten , pasti akan ikut prihatin atau
membantunya . Namun , mata sara berubah . Bibirnya ditarik ke samping . Wajah
kemenangan .
“ Akhirnya aku menemukanmu
...Tenji “
***
Sara bangkit dari kursi dan
keluar dari dunia lamunannya . Dia pun sadar , sekalipun menemukannya , tidak
ada guna baginya . Karena pada akhirnya , dia harus menyembunyikan keberadaannya
.
“ Sudah kuduga , keberadaanku
harus menghilang darinya “
·
Part 4 :
·
Part 5
FINAL:
Didistribusikan
........ ( eh , lebay banget ya ? ) / karya asli dari author dan non-copy-paste
langsung dipost oleh http://vitulaseries.blogspot.com/ .




