¨Note 2 Part 2¨
_Otomi’s part
Badanku selalu berakhir dengan
pegal di bahu dan dagu setiap selesai latihan . Baru kali ini aku merasakan kelelahan
separah ini . Biasanya setiap pulang latihan , aku latihan lagi di ruang latihan khusus di sebelah kamar
tidurku . Tapi , akhir-akhir ini aku sudah tidak latihan lagi di ruang
latihan yang bercat nila dengan grand piano di sudut sebelah kiri . Dan
semuanya karena pengiring baruku yang mengesalkan mentang-mentang jenius dan
murid kebanggaan Universitas . Mana lagi Universitasnya itu Universitas musik paling elit di Jepang , yang
mau berapa tahun mencoba pun tak mungkin kutembus ! Orang itu sama sekali tidak
bisa membedakan mantan murid Universitas kurang terkenal , jurusan hukum dan memiliki
gangguan mata dengan murid jenius yang tidak perlu belajar lagi dan dapat memainkan segala alat musik !
Dia selalu memaksakan semua suara
yang dikeluarkan dari gesekan senar biolaku harus pas . Aku memang Violinis veteran tapi aku bukan Paganini
! Paganini dapat memainkan biola dengan not sempurna dengan mudahnya ,
sedangkan aku mana mungkin bisa . Dan biola ini juga sedikit rusak gara-gara
aku sebelumnya . Kalau dipikir-pikir , seharusnya aku tidak membiarkan biola
yang ada ditanganku ini sampai rusak begini . Maafkan aku , Sora ... aku sudah
mengecewakan dan mengungkiri keinginanmu untukku melanjutkan musik klasik saat
itu .
“ Nadamu salah ! Kau harus lebih
menekan pada bagian ini ! Suaramu jadi pecah tadi karena kau terlalu menaikkan bow-mu ! Dan posisi kepalamu miring ke
kanan 3mm keluar dari kesempurnaan posisi ! Apa kau tahu posisi kepala juga mempengaruhi
permainanmu hah ? Aku dengar kau ini proffesional . Tapi nyatanya kau sama saja
dengan Pemula ! Kau ini menipu masyarakat umum apa dengan kekuatan mistis dan
sejenisnya ? Ulangi sekali lagi ! “ kata-katanya yang diiringi bimbingan spartannya . Saking sering mendengarnya
, aku jadi hafal semua kata-katanya . Dan lagi , aku mana mungkin punya
kekuatan mistis ? Kau saja yang alien ! Jangan-jangan dia suka baca komik cewek
? Hahaha ...haa .. tapi bukannya dia ini komikus komik cewek , ya ?
“ Sudah kubilang kau harus
menekannya di bagian itu ! “ katanya lagi memecah kesunyian . Arghh! Orang ini
maunya apa sebenarnya ? Aku sudah menekannya dengan baik ! Apa telinganya rusak
? Eh , aku tidak boleh bicara seperti itu mengingat mataku sendiri tak lama
lagi buta sepenuhnya . Dan tidak baik menge ..
Benar juga . Aku sudah lama tidak
memeriksakan diri tentang keadaan mataku .Entah kapan aku bisa ...
“ Hei ! Apa yang kau lakukan ?
Ikuti iringannya dan jangan biarkan suaranya terbelah ! “ Rasanya aku ingin
membunuhnya karena mengagetkan diriku seperti itu . Teriakan keras bagaikan
tarzan itu membuyarkanku disaat aku memikirkan hal yang jarang kuperhatikan dan
penting . Uarghhh!! Akhirnya aku lupa apa yang kupikirkan sebelumnya !!!
“ Kau sendiri ! Bisakah kau sok
memerintahkanku , Nakashiki-san ? Jangan seenaknya menganggap aku ini selevel
denganmu ! Aku bukan jenius ! Aku cuma orang biasa dengan biola di tangannya !
“ protesku .
Dia melanjutkan permainan pianonya
. Lalu dia memasang sorot mata bagaikan ingin menyiksaku seumur hidup . Dan
terima kasih atas sorot mata itu , tanganku terus bergegar karena ketakutan !
Plus !! aku semakin tidak konsentrasi memainkan lagu Henryk Wieniawski dan
Frederick Chopin yang kebanyakan bertempo cepat itu . Apalagi judul lagu yang
akan kubawakan untuk recital minggu depan adalah Opus 17 Etudes-Caprices na dwase skrzypiec dan Fantaisie Impromptu . Mengalihkan versi piano ke biola tanpa
menulis dan otodidak mana bisa dilakukan dalam 10 menit ini !
“ Apa tidak ganti lagu saja ? Di
recital kau memainkan karya Henryk
Wieniawski . Kalau memainkan lagu karyanya lagi , Penonton akan bosan “
usulnya .
Benar juga katanya . Mendengarnya
aku sudah tidak bergegar lagi . Justru aku sibuk mengobrak-abrik lemari untuk
menemukan album partiturku .
“ Gabriel Urbain Faure bagaimana ? atau Niccolo Paganini ? Antonio
Vivaldi ? Giuseppe Tartini ? Edvard Grieg ? Johannes Brahms ? Johan
Sebastian Bach? atau .. Apa lagi ya, yang bagus ? “
“ Apa saja asalkan kau bisa
memainkannya dengan mudah dan lebih baik dari sebelumnya “ katanya sambil
tersenyum lembut .
Eh ? apa maksudnya ? Tu-tunggu ...
Apa dia menyemangatiku ?
“ Te ..terima kasih .. “
“ Bukan apa-apa . Hanya saja aku
akan dipecat kalau kau berhenti . Jadi mau tidak mau kau harus sukses atau aku
akan kesulitan untuk membiayai uang iuran “
Kejam sekali kata-katamu ,
Nakashiki Sara ! Memperlakukanku seolah pembiayamu kuliah ! Aku bukan Ibumu !
Padahal namamu seperti nama perempuan . Tidak ! Tidak hanya itu ! Dengan wajah
dan gaya rambutmu yang seperti gadis itu
.... Berani-beraninya kau mengejekku ...
Aku pun memutuskan untuk membawakan
Caprice 1 dan 2 nya Niccolo Paganini
. Dan aku sengaja memilih salah satu lagu yang paling sulit di album partiturku
demi menantangnya . Asalkan aku dapat memainkannya dengan bagus , dia akan
bersimpuh dibawah kakiku sambil mengatakan , “ Maafkan aku , Guru Besar Tenji
Otomi ! Aku sangat bodoh untuk tidak menyadari kejeniusanmu ! Aku sangat besar kepala
dan bodoh ! Juga aku.....
“
WOIIIIIIIIIIII?????????????????KAU DENGAR TIDAK APA YANG KUKATAKAN TADI
HAHHHHHH????? “ Pekiknya mengejutkanku .
Dia adalah manusia yang paling
setan daripada setan...
···
Aku sudah tidak kuat lagi ! makhluk
itu terlalu mengesalkan !
Seandainya aku tidak menggaungkan
fantasi yang tidak mungkin terjadi di dunia ini , aku pasti sudah lebih relax . Pilihanku untuk menantangnya
sudah bagaikan senjata makan tuan . Seharusnya kubawakan saja Violin Sonata in G minor nya Giuseppe
Tartini atau Nocturne in C Sharp
Minor nya Frederyk Chopin . KENAPA
AKU HARUS MEMILIH CAPRICE 1-2?????
“ KAU INI TERLALU BERLAGU !
AKHIRNYA TIDAK BAGUS KHAN ? PENONTON SAJA SUDAH DITIPU OLEHMU DI RECITAL WAKTU
ITU ! UNTUK MEREKA TIDAK PUNYA PENCIUMAN MUSIK YANG TAJAM ! ADA BANYAK
KESALAHAN YANG KAU LAKUKAN ! APA SIH MASALAHMU ??? PADAHAL VIDEO RECITALMU
WAKTU SMA LEBIH BAGUS ! KAU INI MAKIN TUA MAKIN BERKURANG KEPIAWAIANMU ! “
tidak perlu kau bilang aku sudah tahu . Masalahnya , aku masih belum begitu
terbiasa dengan memainkan biola dengan mata terpejam sepenuhnya . Nyonya Sakai
, tolong aku !
Tapi Nyonya Sakai pasti akan marah besar
padaku . Dan kalau aku memintainya tolong dimasa liburan panjangnya , aku sudah
menjadi murid yang kualat . Aku benar-benar manusia yang hidup dengan banyak
pilihan .
“ Aku tidak suka sikapmu yang seenaknya itu .
Tidak .. bukan seenaknya .. tepatnya MENGESALKAN . Kau terlalu menganggap remeh
lagu karena ingin menantangku ini yang selalu keras padamu khan ? “
Hah ? Apa tadi ? Bilang apa ? Apa
bilang ? Jangan-jangan dia bilang kalau ... HUARGHHHH!!!!!! Dia bisa membaca
pikiranku ! Dia alien ?
Sudah pasti dia alien . Eh , bukan
! Setan yang lebih setan dari setan ! Benar sekali !
Dia meminum kopinya dengan santai
sambil menghela nafas , “ Apa kau sadar kalau kau sudah menghina Niccolo
Paganini yang bersusah payah membuat sebuah mahakarya ? Dengan sikapmu itu ,
secara tidak langsung kau menghina Paganini . Tidak hanya Paganini , juga
seluruh pemusik di dunia termasuk musik itu sendiri “ katanya .
Aku terdiam . Merenungi dan
meresapi maksud ucapannya . Menghina .. musik ? Aku ?
Memang benar . Seperti katanya .
Aku tidak pantas menyebut diriku Violinis jika aku bahkan tidak tahu hal
semudah itu . Aku ini memang ...
“ Hei “
“ Ya ? “
“ Pernahkah kita bertemu sebelum
recitalmu di Tokyo waktu itu ? “
Tidak . Dan aku berharap tidak !
“ Sama sekali tidak dan aku
berharap tidak sama sekali “
“ Kau marah ? “
“ Pastinya ! Sebagai pengiring kau
seharusnya gak segitunya juga! “
“ Aku harus tegas demi kelancaran
recitalmu kedepannya . Kalau kau terus dimanjakan , kau takkan maju seperti
masa kejayaanmu yang punah itu “ jawabnya tenang .
Baru kali ini aku melihatnya dengan
raut wajah itu . Dia terus menatapku dengan tatapan mencurigakan . Apa dia
masih berkutat dengan pertanyaan sebelumnya ? Tapi kuakui memang serasa aku
sudah mengenalnya lebih lama dari ini . Apa ini kebetulan ? Sudahlah , mengaku
saja ! daripada dia menatapmu seperti harimau kelaparan itu , Otomi .
Ah ... gara-gara dia aku malah
berbicara dengan diriku sendiri berkali-kali ... ah sudahlah ! Katakan saja ,
habis perkara !
“ Aku memang merasa aku pernah bertemu
denganmu juga ... Jadi berhentilah menatapku seperti itu , Nakashiki-san ! “
protesku . Dia cukup terkejut nampaknya . Sepertinya dia berfikir seperti ini ,
‘ Benar juga ‘ atau ‘ Bagaimana dia bisa tahu ‘
Dia pun bangkit dari kursinya .
Membawa secangkir kopi yang sisa ampas itu bersamanya . Kepalaku ditimpali
seribu pertanyaannya . Apa yang dilakukannya ? Apa dia mau berlagak model iklan
kopi instan ?
“ Kalau begitu , aku harap apa yang
kau katakan memang benar ... tapi .. ah , tidak . semoga saja kau bukan dia ...
“ katanya dengan raut wajah yang menyedihkan .
‘ Dia ‘ ? kekasihnya ya ? Tapi
kenapa dia tidak mau menemuinya ?
Tidak kusangka sosok iblis
Nakashiki Sara juga bisa merasakan apa itu cinta ya ... Wajahnya memancarkan
aura kesepian yang mendalam dan kepahitan yang kelam . Dia cukup mengingatkanku
dengan masa laluku ;
‘ Sora ! aku mohon padamu ! bangunlah Sora ... ‘
Diriku yang dulu . Maupun diriku
yang sekarang selalu mengharapkan hal yang mustahil . Pada akhirnya yang bisa
kulakukan hanya menangis setiap mengingat atau teringat akan masa laluku .
Menangis dan menangis . Padahal aku sudah tahu kalau menangis tidak akan
merubah apapun .
Kutarik ujung jasnya . Dia berhenti
dan menatapku dengan aneh . ‘ Apa yang dipikirkannya ‘ pasti itulah yang
dipikirkannya saat ini . Aku yakin sekali dia berfikiran seperti itu . Tapi ,
setidaknya ... Seandainya aku bisa sedikit membantunya ...
“ Kau ... Kau jangan berfikiran
seperti itu ... Aku .. Selama ini aku selalu berharap dapat bertemu dengan orang
itu ... Jadi ... Jangan .. Jangan sekali-kali kau berfikir bahwa DIA TIDAK
PENTING ! “ kataku padanya . Matanya terbelak . Terlihat jelas pula bola
matanya yang merah kecoklatan .
Dia membalikkan tubuhnya . Wajahnya
kosong . Seakan jiwanya pergi entah kemana . Kenapa bisa begitu ?
“ K.. kau .. bagaimana kau bisa
tahu k-kalau .. “
Ternyata memang benar . Kau ini
selalu memarahiku , menyelotehiku , menghinaku , menyadarkanku ... Bagaimana
aku bisa tidak tahu ?
Kita memang bertemu tidak begitu
lama . Baru jauh hari ini , kita saling mengenal . Tapi, wajahmu tadi ,
kepahitanmu mungkin sama denganku . bagaimana kau bisa berfikiran bahwa cinta
itu bisa dilepaskan begitu mudahnya ? Kalau memang benar aku mirip dengan orang
yang kau sukai , pasti sejak dulu kau menolak pekerjaanmu saat ini ! Tidakkah
itu benar , Nakashiki Sara ?
Aku tidak mengerti apa yang
kupikirkan saat ini . Cintaku kepada Sora sangat besar , cukup besar untuk
membuatku tidak ingin jatuh cinta lagi dan mengukir namanya sedalam mungkin
dihatiku . Tapi , jika ada hal yang bisa kulakukan demi orang didepanku saat
ini ... Aku ...
“ Aku ingin menjadi kekuatanmu !
Maka dari itu jangan sekali-kali kau berfikiran seperti itu ! “
Eh ? Mengapa ? Siapa ? Dimana ?
Bagaimana ? eh ? HEEEE?
Apa-apaan yang kukatakan ini ? Dia
pasti mengira yang macam-macam ! Padahal kami gak akur dan~~ TIDAKKKK!!!! AKU
INI BODOHNYA TERLALU !!!
Dia nyengir , ekspresinya berubah .
Nah , untuk kali ini aku tidak mampu pikiran macam apa yang ada di otaknya itu
.
“ Kau... Jangan-jangan ...
Menyatakan cinta kepadaku ? “tanyanya usil .
“ APAAAA???? “
Apa-apaan dia ini ? Ya ampun ! aku
gak tahu harus bilang apa lagi ! Otakku tidak mampu mencerna dengan baik !
Bukan itu maksudku , Bodoh !
“ Jadi selama ini kau berpura-pura
membenciku ? Agar segalanya terjadi seperti apa yang ada di shoujo manga ? “
Hah ? Kau kira aku ini perempuan
macam apa ? Asal kau tahu ya ! Aku bukan cewek lugu dan bodoh yang menganggap
cinta itu prioritas nomor satu ! eh .. tidak Juga . Kau di masa lalu seperti
itu ...
‘
Demi menjadi teman Sora , aku akan belajar segiat mungkin ! ‘
‘ Aku
ingin berada disampingnya , menjadi orang yang berguna baginya .. di saat
terakhirnya kelak ‘
Sekali lagi fantasi masa lalu
menghantuiku . Sampai kapan aku akan
terpuruk di masa lalu begini . Aku mengerti sekarang . Apa yang kulakukan saat
ini , semuanya karena Sora . Kembali merajut karier yang kutinggalkan ,
berjuang mendapatkan perhatian Ny.Hayashi , bermusik di panggung ... semuanya
karena Sora ...
Aku hanyalah manusia yang kosong .
Tanpa impian sejati . Impian yang kumiliki selama ini karena orang lain .
“ Aku ini .. ternyata tidak pernah
melakukan apapun demi diriku sendiri .. semuanya demi dia ... padahal aku sudah
tahu .. uh .. kalau dia ... sudah jauh ... “
Aku pun bersimpuh sambil menangis .
Air mataku sudah tak dapat terbendung lagi . Padahal aku sudah tahu bahwa Sora
sudah tidak ada lagi . Dia sudah tak ada di dunia ini lagi ! Apa yang kucari ?
Apa yang kupikirkan selama ini ? Dan apa yang selama ini kulakukan?
Tapi , seandainya dia masih
bernafas pun , apakah dia mau menjadi temanku ? Segalanya ... hanya demi
keegoisanku semata . Walaupun egois dan kepuasanku sendiri , intinya tetap sama
; Demi menjadi temannya dan berguna
di saat terakhirnya .
Kenapa aku tidak punya alasan yang
egois ? Misalnya , menjadi satu-satunya orang yang berguna agar aku menyisahkan
kesan di hatinya ? Atau memaksanya menjadi teman secara tersembuyi ? Memikatnya
dengan permainan biolaku ? Membuatnya jatuh cinta padaku ... bukankah
alasan-alasan itu alasan yang sudah pasti digunakan anak zaman sekarang ini
ketika berhubungan dengan hal yang dinamakan ‘ jatuh cinta ‘ ? Bagaimana ku
bisa setolol ini ? Semuanya ...
Sara yang sejak tadi tampak
kebingungan dengan tingkahku yang diluar kepalanya pun mendekapku kedalam
pekukan hangatnya . Aku akui aku sangat kaget . Aku tidak bisa melawan . Kenapa
aku tidak bisa melawan ? Padahal aku sudah jelas menyukai Sora . Aku malah
membiarkan orang yang tidak kucintai memelukku seenaknya . Apalagi dia orang
yang baru kekenal seminggu yang lalu .
Dia hanya berusaha menenangkanku
sebisanya . Dia pasti tahun bahwa kata-kata pasti tak cukup untuk menenangkanku
. Dan dia pasti berfikir bahwa hanya dengan cara ini dia bisa menengangkanku
yang ditenggelamkan oleh kegelapan hati ini ..
“ Terima kasih .. Tapi sekalipun
kau melakukan ini ... Takkan mengubah kenyataan bahwa dia akan hidup kembali
... “
Apa yang telah kukatakan ini ...
Padahal sudah jelas kalau-
“ Aku mengerti . Aku memang tidak
tahu apa yang terjadi padamu dimasa lalu hingga kau segini terpuruknya . Dan
aku yakin ada beberapa kata-kataku yang tidak berkenaan dihatimu . Akhirnya
justru mengingatkanmu hal-hal yang buruk itu . Maafkan aku ... Akulah yang
seharusnya meminta maaf ... “
Bodoh . Buat apa kau meminta maaf .
Justru aku harus berterima kasih padamu . Kalau kau tidak menyadarkanku , aku
akan teris terpuruk dalam bertehun-tahun lamanya . Terima kasih ... Nakashiki
Sara .
Malam itu , kata-katapun sudah tak
dapat diucapkan lagi . Kami tenggelam dalam perasaan yang bercampur aduk .
Meratapi masa lalu yang tidak kami ketahui akan sampai kapan terus berlanjut .
***
“ Hei ! Mau sampai kapan kau
berdandan hah ? perempuan memang lembet ya “, omel Sara didepan pintu kamar
rias .
“ Iya ! Tu-tunggu sebentar ! Aku
kesulitan menaikkan resleting gaunku ! “ jawabku jengkel sambil berusaha
menaikkan resleting gaunku . Sialan ! Berat badanku mulai naik ! Selama ini aku
tak pernah memperhatikan penampilan . Ibu dan putri Ny.Hayashi yang sepertinya
bernama Sayo itu yang selalu menyuruhku berdandan .
Sekali lagi , kejadian langka
terjadi padaku . Aku yang tidak begitu memperhatikan penampilan malah kesal
dengan yang namanya kegemukan dan sepertinya
berfikiran untuk diet . Apa yang terjadi padaku sebenarnya .
Tapi , kuakui malam kemarin itu
seperti mimpi saja . Awalnya kami bertengkar karena lagu , tapi ujung-ujungnya
kami saling meratapi masa lalu . Hal yang hanya terjadi pada shoujo manga
. Tidak ! Aku tidak boleh membuat otakku
menjadi manga mode ! Ini kenyataan !
“ Kalau kau kesulitan , akan
kubantu kau . “ katanya dari luar .
“ Ah ! Berengsek lu ! Diam disana
dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk masuk ! Dasar genit ! “ pekikku dari
dalam rias .
HA ! akhirnya bisa juga ! luar
biasa si alien Sara ! Baru saja dia me .. eh .. tu-tunggu dulu ! Ini usahaku
sendiri lho ! Ah , aku ini bodoh sekali . Aku menganggap dia ini sumber segala
kebahagiaan atau seperti itulah .
Padahal , selama ini ... aku
berhutang budi pada Sora .
“ Sudah ? “
“ SUDAH ! AKU KELUARRRrrr SEKARANG
!! “ pekikku kesal .
Dia ini gak sabaran banget sih !
Aku pun keluar dari ruang ganti .
Dia tampak cukup kaget . Ngapain bah dia melihatku seperti itu ? Mau
menertawaiku ? Silahkan tertawa sebisanya !
“ Dandananmu tak buruk “ pujinya
sambil tertawa .
Ah~ sekali lagi aku dikeributi oleh
kesialan , disambar petir , terjatuh kedalam jurang tanpa ujung dengan
tengkorak disampingku . Begitulah cara menggambarkan perasaan setiap orang yang
melihat senyuman iblis nan menyeramkan bin berbahaya dari seorang Nakashiki
Sara .
Dia pun sedikit menyelutuk . Lalu
dia menyodorkan tangannya yang sudah dilapisi sarung tangan ala opera eropa , “
Shall we ? “ katanya sambil tersenyum
ala gentleman .
‘ gentleman ‘ ? jangan bercanda ! Aku tidak boleh jatuh cinta . Aku
hanya menyukai Sora dan TAKKAN berubah . Tapi kalau aku emnolak nanti akan
berujung seperti di shoujo manga . Jadi , lebih baik kuterima tantangan (?)
dari si iblis menyebalkan ini ! Kuraih tangannya dan kami pun berpegangan tangan bagaikan pasangan yang
akan berdansa dalam ball yang
diiringi musik waltz . Walaupun
sebenarnya justru kami-lah yang akan mengiringi waltz itu .
Para kru menatap kami dengan aneh .
Ada yang melirik kami dengan pandangan mengejek dan iri . Ada juga yang seolah
menggoda kami dengan bersiul .
“ Ciee-ciee! Cinta antara violinist dan pengiringnya ! “ ejek
salah seorang kru .
Hei ! Aku sendiri dari lubuk hati
terdalamku tidak menginginkan hal ini terjadi !
Sara tampak sedikit menyelutuk LAGI
! Apa yang lucu hah ? Aku jadikan aku mainan yang bisa kau kerjai setiap hari ?
Kau ini cuma pengiringku !
“ Kalau kau proffesional ,
bersikaplah proffesional dan menatap ke depan “ kata Sara .
Benar juga . Aku harus bersikap
proffesional . Bukankah aku sudah berkecimpung dalam dunia ini selama
bertahun-tahun ? Aku ini pemusik vveteran ! Ya , kuakui aku sudah kalah dengan
pemuda yang hanya berpengalaman 3 tahun dalam musik klasik ...
Kami pun mulai menaiki panggung
bersamaan . Inilah panggung terbesar yang pernah diadakan seumur hidupku . Grand recital Tenji Otomi dengan nama
panggung Ten-sama .
Tepuk tangan menyambut kami dengan
hangatnya . Kupandang sekitarku . Terlebih para penontonku . Seperti namanya , Grand Recital ini adalah recital terbesar
yang pernah diadakan untukku . Jadi sudah pasti penontonnya bukan orang
sembarangan . Diantaranya adalah pemusik senior dengan berbagai instrumen ,
kota bahkan negara . Tidak hanya pemusik , ada juga pelatih , pembuat biola dan
penggemarku . Ukuran panggung yang digunakan luar biasa besar . Piano yang
digunakan untuk mengiringiku juga sangat cantik dan tampak mahal . Sara tampak
cukup senang akannya sekalipun dia tak menampakkannya .
Tidak ingin mengecewakan penonton ,
aku pun mulai memberi aba-aba kepada Sara . Lagu yang pertama kami bawakan
adalah Scherzo tarantelle . Saat Sara
mulai memainkan pianonya , aku pun mulai beraksi .
Lagu ini memang sangat cocok untuk
recital ini . Pertama , musiknya cukup sulit diawalnya dan lembut di tengahnya
lalu kembali sulit di akhirnya , gaya musik itu adalah gaya yang paling mudah
dihapalkan dan enak didengar . Kedua , aku sudah hapal lagu ini diluar kepala .
Kenapa tidak menggunakan lagu yang
sudah kami putuskan kemarin ? itu karena Sara menelponku tadi malam . Dia bertanya
apa ada lagu yang tidak perlu latihanpun aku sudah hapal dan lebih mudah
kumainkan karena terbiasa . Aku sebutkan beberapa dan diantaranya adalah lagu
ini . Dia pun menyuruhku memainkan lagu ini dan dia langsung latihan piano .
Tapi , aku penasaran . Dia terlalu
hebat . Melihat lingkar matanya , dia sama sekali tidak bergadang untuk latihan
lagu ini . Dia sendiri bilang kalau dia hanya tahu karya Chopin , Beethoven , Mozart dan Bach
seumur hidupnya . Selain virtuoso
itu, dia sama sekali tidak tahu . Mukanya juga segar . Biasanya , orang yang
mengerjakan deadline apalagi hanya 6 jam langsung bisa memainkannya dengan
sempurna , sudah pasti mau main berapa kalipun mukanya tetap muka lelah .
Dia begitu he ...
Drrrttt!
Eh ? kenapa ? gelap ... seisi panggung
menjadi gelap . Apa yang terjadi disini ?
“ Sara , kau dimana ? “ tanyaku
dengan tangan yang masih memainkan biola . aku menggunakan suara yang kecil
pastinya .
“ Aku masih bermain , kau sudah
tahu pastinya khan ? “ jawabnya . Benar , dia masih memainkan pianonya .
Seperti katanya sebelum menaiki
panggung , apapun yang terjadi , kami harus bersikap proffesional . Tidak boleh
tu,bang hanya karena hal ini . Kami pun melanjutkan permainan musik kami .
Menimbulkan decak kagum kepada penonton . Kami berdua memang sulit melihat
reaksi penonton dalam kegelapan ini , tapi kami tetap berkutat untuk bermusik .
“ Plakkk! “ sebuah tangan yang
asing menamparku . Aku tidak tahu siapa gerangan yang telah menamparku .
Tanganku mulai licin . Musikku berhenti .
“ Tu-tung! Hei !Mau ap- “ belum
sempat kulanjutkan musikkku , biolaku hampir terjatuh .
Aku berhasil menangkapnya , dan
kusadar pula ada sebuah tangan besar yang ikut mengambilnya . Saat aku berusaha
melihat siapa yang ikut membantuku , lampu panggung pun menyala .
Ya Tuhanku ! Ternyata orang itu
adalah Sara . Apa yang terjadi dengan sikap proffesionalnya ? dan ditambah lagi
.. tangannya tidak mau lepas dariku ! Hei ! Coba kau lihat sorot mata aneh para
penonton itu !
“ Sudah kuduga aku pernah bertemu
denganmu sebelumnya ! “ dia malah beralih menarik tanganku . Dipandanginya
terus wajahku . Aku mulai ketakutan . Hei ! Coba lihat apa yang akan mereka
(penonton) pikirkan saat melihat kita bersikap aneh di panggung besar ini !